Menyikapi Potensi Waktu
17.46 | Author: Unknown
Waktu demi waktu yang sudah kita jalani, jika mau jujur, setiap desah napas adalah satu langkah menuju kubur. Perayaan ulang tahun, sebenarnya adalah perayaan berkurangnya jatah umur kita. Alangkah ruginya jika kita menjalani sesuatu yang begitu berharga lalu sia-siakan. Begitu pentingnya masalah waktu, sampai ada yang mengatakan, “jika engkau ingin tahu menusia yang paling bodoh, lihatlah orang yang diberi modal tetapi ia hamburkan sia-sia.”
Tidak bisa kita pungkiri bahwa satu-satunya yang tidak bisa dihentikan adalah waktu. Setiap orang punya jatah yang sama, 24 jam: orang yang sukses dengan yang gagal, begitupun calon ahli surga dan calon ahli neraka. Yang jadi soal adalah, bagaimana mengelola waktu agar menjadi manfaat di dunia dan akhirat?
Karena itula Allah Swt meletakkan waktu sebagai nilai yang menentukan timbangan kerugian dan keuntungan manusia dalam hidupnya. Seperti yang tercantum dalam surat Al ‘Ashr ayat 1-3:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati dalm menaati dan nasehat menasehati dalm menetapi kesabaran.”
Surat Al ‘Ashr di atas memang laksana laut tak bertepi. Setiap kali kita men-tadabburi-nya, setiap itu pula kita menemukan makna-makna baru yang menuntut kesadaran yang lebih intens dalam soal waktu.
Paling tidak, dari surat tersebut kita yakin, setiap manusia hanya akan menghabiskan dalam kerugian, kecuali mereka yang memiliki kemampuan memanfaatkan waktu untuk empat perkara.

Pertama, orang yang pasti beruntung adalah orang yang setiap hati bertambah kekuatan iman dan keyakinannya terhadap kebenaran. Jadi, kalau orang bertambah usia untuk siapa, tidak ada manfaatnya. Seseorang yang tidak mengerti agama, tidak mengerti iman, maka hidupnya benar-benar akan sia-sia. Hidupnya hampa karena perbuatannya tidak dilandasi niat ibadah karena Allah.
Meskipun orang tersebut punya harta, gelar, pangkat, jabatan dan punya segala-galanya, tetapi tidak punya iman, dia termasuk orang yang merugi. Bobot pahala tidak dihitung darii semua itu. Betapa kasihan, sibuk luar biasa di dunia dan ketika mati hanya jadi bangkai, lalu hanya dosa-dosanya saja yang akan dihitung. Naudzubillahi mindzalik.
Lantas bagaimana agar iman manjadi kuat? Pupuk penguat iman adalah ilmu. Jika kita tdak pernah mencari ilmu, maka sama saja dengan menanam pohon tanpa memupukknya. Lambat laun pohon itu akan layu, menguning, kering dan mati.

Kedua, cirri orang yang beruntung adalah mereka yang dapat memanfaatkan setiap waktunya menjadi amal shaleh.
Kita tidak perlu dipusingkan dengan apa yang akan kita dapat, karena pahala dan balasan dari setiap amal tidak akan tertukar tidak ada yang salah dari karunia dan balasan Allah. Yang harus kita pikirkan setiap waktu adalah bagaimana agar setiap detik waktu kita bisa jadi amal kebaikan?
Oleh karena itu, jangan panik dengan apa pun yan belum terjadi, jika kita isi setiap waktu dengan terus beramal. Bila kita sensitif ketika melihat ladang amal, insya Allah kita beruntung. Jangan berharap ini itu dari setiap amal yang kita perbuat. Dengan sendirinya, amal-amal itu akan mengundang keberkahan bagi diri kita sendiri.

Ketiga, orang yang mendakwahkan kebenaran. Orang akan beruntung kalau dia menjadi contoh kebaikan. Orang yang meniru kebaikan kita, akan menerima pahala yang juga mengalir untuk kita.
Semua manusia pasti mati. Salah satu warisan yang dapat kita tinggalkan adalah nama baik. Sedangkan nama baik hanya ada kalua hidup kita menjadi contoh kebaikan. Jangan sampai ketika kita mati, yang diceritakan orang lain tentang kita adalah kidah buram tentang si koruptor, si maling uang rakyat, si sombong, si serakah, dan semacamnya. Na’udzubillah.
Nabi Muhammad Saw merupakan contoh kebaikan. Sejak ribuan tahun yang lalu hingga detik ini, bahkan menjangkau hingga ribuan kilometer, hanya kebaikan-kebaikannnya yang banyak disebut orang. Subhanallah. Salah satu sebabnya adalah karena Rasulullah adalah orang yang sangat terpelihara dari kesia-siaan. Sekecil apapun perbuatannya, Rasulullah terbebas dari kesia-siaan. Rasulullah Saw adalah pribadi efektif yang penuh makna.
Maka, kalau kita ingin termasuk orang-orang yang beruntung, usahakan agar setiap waktu dapat membuat diri kita bagaikan cahaya matahari; menerangi orang-orang yang berada dalam kegelapan, menumbuhkan bibit-bibit kebaikan, menyegarkan batang-batang yang layu.
Oleh karena itu, tempalah diri kita sedemikian rupa agar selalu menjadi jalan kebaikan bagi sebanyak mungkin hamba Allah. Tidak peduli agama apa pun, karena kita tercipta unutk menjadi rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam, termasuk hewan dan tumbuhan. Insya Allah.

Keempat, orang yang yakin bahwa setiap waktu yang dia jalani  akan banyak menghadapi cobaan-cobaan, akan memiliki kesabaran dalam menegakkan kebenaran. Mereka inilah yang beruntung.
Jika tadak sabar, kita akan goyah, rontok, tidak menjadi contoh dan akhirnya kita tidak memperoleh apa pun di akhirat kelak. Kekuatan pribadi untuk saling menasehati dalam kebenaran adalah bagian dari keberuntungan kita semua. Tanpa kesabaran, mustahil kita akan mengenal Allah dengan baik. Akibatnya kita akan dilanda nestapa. Na’udzubillah.
Semua yang gagah akan mati, semua yang punya jabatan, gelar kekayaa, atau kedudukan, juga akan mati. Masalanya, apakah kematian itu khusnul khatimah (baik di akhirnya) atau su’ul khatimah (jelek di akhirnya)? Semua itu pada akhirnya bergantung dari cara kita mengisi waktu demi waktu dalam hidup ini.
Waktu 24 jam sehari tidak bisa kita tambah. Sekalipun kita beli jam tangan yang 36 jam (kalaupun ada), pasti tidak laku, karena waktu akan berjalan apa adanya. Kita tidak bisa menghentikannya.
Idealnya, setiap waktu sudah ada jadwal kebaikan sendiri-sendiri. Yang kerap membuat rusak urusan kita adalah, karena kita salah mengisinya. Untuk mengatur waktu, yang paling penting adalah membuat peta dari apa yang akan kita lakukan.
Contoh yang wajib ditunaikan adalah hak Allah (shalat), hak istirahat, dan hak makan. Selanjutnya yang sunnah sebut saja olahraga. Hal yang mubah, misal rekreasi atau menontn tv (tentu yang acaranya bermanfaat). Kalau acaranya buruk, tentu kita lebih tahu bagaimana menyikapinya.
Marilah kita jadikan setiap detik begitu berarti hingga menjadi sarana untuk memacu penigkatan kwalitas dan pemahaman kita terhadap kebenara. Dengan begitu, insya Allah keimanan kita semakin menebal, amal kita semakin produktif, kwalitas akhlak meningkat dan kesabaran kita menjadi teladan dalam menetapi kebenaran ini.
Tidak hanya itu, usia pun insya Allah akan menjadi sangat berarti. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “ Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi umur yang panjang dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad).
MQ “Aku Bisa” Manajemen Qolbu Untuk Melejitkan Potensi oleh Abdullah Gymnastiar
|
This entry was posted on 17.46 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: