Ada cerita menarik yang mendorong kemajuan pendidikan Ghazali. Suatu ketika, dalam perjalanan pulang ke tempat tinggalnya, dia dicegat perampok. Mereka merampas tas berisi catatan kuliahnya dengan cara kasar. Pencoleng itu menyangka ada sesuatu yang berharga di dalam tas.
Dengan penuh harap Ghazali memohon tas itu dikembalikan. Sungguh gila! Mereka malah mentertawakannya. Permintaaan yang serius Ghazali dianggap sebagai lelucon. “seorang yang bodoh, belajar hanya tergantung pada lembaran kertas!” ejek salah seorang diantaranya.
Bagai disambar petir siang bolong, Ghazali tersentak dengan bentakan perampok itu. Bagaimana mungkin ia yang sudah tekun mencatat berbagai ilmu dari guru – gurunya dibilang bodah! Namun beberapa saat stelah menenagkan diri, ia menyadari ucapan permapok itu. Maka, sejak itu Ghazali menghafal semua catatan kuliah selama tiga tahu. Ia tidak lagi menggantungkan ingatannya pada lembaran – lembaran kertas itu lagi.
Sebagian besar orang besar, konon, memanfaatkan waktunya dengan kegiatan dan kerja keras. Bahkan untuk kemajuannya, mereka harua berhadapan dengan ketegangan yang memunca. Babak – babak kehidupannya dibuat sedemikian menggairahkan. Kadang dikepung oleh ketegangan yang mengerucut. Puncak, ketegangannya samapi mengancam tiga pe empat nyawanya. Hampir – hampir nyawa itu menjadi tompel dan lepas.
Tidak usah diartikan ‘tompelnya’ nyawa itu sebagai lepasnya ‘anak’ nyawa dari induknya. Sebab, tidak ada nyawa cadangan Dibenamkan Tuhan di Laut Merah, masih memiliki dua nyawa cadangan yang lain ; pada keturunan, dan pada jasadnya yang kaku. Ini sama persisi dilakukan oleh kelompok pengabdi berhala kekuasaan yang lain, symbol – symbolnya diwariskan turun temurun dari zaman ke zaman. Semacam nostalgia masa lalulah. Agar kemasyurannya tetap laggeng dan kita memang mengenalnya karena jejak –jejaknya. Tapi adakah karena nyawa serepnya itu? Sebuah langjah keblinger namanya.
Hanya sebuah tamsil. Betapa sebuah keberhasilan harus ditempuh dengan langkah – langkah yang menuntut perjuangan dan pengorbana. Adapaun bentuk dan nama keberhasilan yang diinginkan itu.
Untuk itu sebuah keberhasilan, tidak ada salahnya mendisiplinkan diri. Misalnya :
- Iringi langkah pertama cita – cita atau gagasan dengan bismirabbik (menyebut nama Allah SWT/ menyandarkan pada kehendak-Nya,), agar keberjasilan tidak menjadi berhala.
- Tanda tanganilah semacam ‘surat hutang diri’. Susunlah misalnya surat, dimana Anda berjanji, bahwa pada hari anu jam anu akan melakukan kegitan (amaliyah) anu. Jangan menunda sebuah langkah yang mendorong tercapainya kemaslahatan untuk dunia maupun akhirat.
- Kalau Anda melakuakan hal ini, - dan ini adalah sugesti internal- berarti Anda menekan kemauan lebih keras. Anda semangat ‘bertempur’ dari dalam.
Tentu saja tidak hendak menjadi diri sebagai Ghazali atau orang – orang terkenal siapapun, dimanapun. Kita hanya ingin menjadi diri kita sendiri dengan segala citra kedirian yang mendapat ridha Allah. Cukuplah itu.
0 komentar: