Agar Dicintai Allah dan Manusia
12.47 | Author: Unknown
Dari Ibnu Abbas Sahl bin Sa’a As Sa’idi Radhialahu ‘anhu, ia berkata: “ Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya maka aku dicintai Allah dan dicintai manusia.’
Maka beliau bersabda,’Zuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimua. Dan zuhudlah engkau terhadap apa yang ada pada (dicintai) manusia maka niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Suatu hari Rasulullah menghampiri sahabatnya, Ibnu Umar, dan memegang pundaknya. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir,” sabda Nabi Saw kepadanya. Ibnu umar kemudian menyambung, “ Jika engkau di waktu sore maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi janganlah engkau menunggu sore. Dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakit serta waktu hidupmu sebelum mati.”
Ulama Al-‘Iz Ala’uddin bin Yahya bin Hubairah menjelaskan bahwa petikan dialog yang agung yang diriwayatkan Imam Bukhari ini merupakan taujih Rasulullah kepada umatnya tentang hakikat hidup manusia di dunia dan bagaimana cara menjalaninya. Buku manual dari Allahlah yang semestinya selalu menjadi rujukan manusia.
Inti pesannya, begitu sementaranya hidup ,manusia ini, sampai disamakan dengan sebuah perjalanan, ada awalnya, ada saat terjadinya, dan ada saat berakhirnya, serta ada kelanjutan perjalanan berikutnya yang lebih kekal yakni akhirat. Dengan kata lain, dipanggung kehidupan hanya tempat singgah (mampir).
Hakikat persinggahan dalam rentang kehidupan yang mereka jalani itu harus betul-betul disadari dan dimanfaatkan sebaik mungkin, sebab lakon mereka di dunia hanya akan berlangsung singkat. Itupun Cuma untuk mengumpulkan bekal, bukan untuk bersenang-senang.
Jadi seyogyanya manusia menjalani hidup secara proporsional, yakni dengan senantiasa menjadikan akhirat sebagai sentral kehidupan. Jangan sampai keliru, si satu sisi status hakikatnya hanya sebagai orang singgah, tapi sikap dan kipranya malah didorong agar seperti orang yang akan tinggal lama di dunia.
Untuk itu, mereka tidak boleh asyik bermain-main dengan berbagai aspek duniawi yang berhasil ditemukan dan dikuasai selama hidup. Tetapi mereka harus bisa menaklukkan dunia, memilikinya serta meraih berbagai prestasinya untuk dijadikan jembatan menuju akhirat.
Kalau hal itu bisa dijalani, yakni hidup bergulat dengan dunia tapi untuk tujuan akhirat, maka seperti sudah terbukti dalam janji Allah, mereka akan mendapatkan keuntungan untuk akhirat dan sekaligus untuk di dunia itu sendiri. Mereka sukses kedua-duanya.
Tetapi jika tidak, didunia mereka pasti sengsara karena kenikmatan yang dikecapnya hanyaberlangsung sesaat. Di akhirat tentu saja mereka akan lebih menderita karena siksa yang berkepanjangan.
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak sadar akan) pertemuan dengan Kami (akhirat) dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka -kerjakan.”(Yunus:7-8)
Sayangnya kenbanyakan manusia justru menjalankan kiprah hidup yang sebaliknya. Mereka mengabaiakan tujuan peranatauannya ke akhirat dan sekaligus merasa betah di dunia dengan segala macam kenikmatannya. Sebagian besar waktu, tenaga, pikiran dan berbagai sumber daya kehidupan mereka lainnnya dikerahkan hanya untuk mengejar kesengan duniawi. Perhatian, emosi, pengorbanan dan semua aspek kejiwaan mereka juga hanya terfokus pada bagaiamana mencari kenikmatan dan kepuasan nafsu.
Padahal, seperti dikatakan Abu Hasan ‘Ali bin Khalaf dalam Syarah Bukhari, yang namanya orang asing atau musafir itu tidak akan terlalu betah berada ditempat persinggahannya. Hatinya tidak akan terpaut dan jatuh cinta apalagi menyatu dengan persinggahannya, karena ia sadar bukan itu tempat tujuannya.
Sebaliknya, ia selalu merindukan tujuan akhir dari perjalanannya serta berusaha mempersiapkan bekal yang semestinya untuk sampai ke sana, karena ia yakin itulah sebaik-baiknya tempat.
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampong akhirat adalah lebih baik adan itulah sebaik-baiknya tempay bagii orang yang bertakwa.”(QS. An Nahl: 30)
Orang-orang yang berhasil menghayati perannya di dunia fana ini sebagai musafir tidak lain ialah orang-orang yang zuhud. Dengan demikian, untuk mendapatkan kemulian tertinggi dalam hidup, yakni dicintai (diridhai) Allah dan manusia, maka cara yang harus ditempuh adalah dengan menghayati dan menjalani hidup sebagai seorang musfir. Musafir yang selalu merenungkan nasihat khalifah Ali:
“Dunia berjalan meninggalkan manusia
Sedangkan akhirat berjalan menjemputnya.
Masing-masing punya penggemar,
Karena itu jadilah kamu penggemar akhirat,
Jangan jadi penggemar dunia.
Sesungguhnya hidup saat ini
Adalah masa beramal bukan masa peradilan
Dan esok adalah masa pengadilan bukan masa beramal.”
|
This entry was posted on 12.47 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: